MILAD

•Juli 13, 2008 • Tidak ada Komentar

MILAD

Subbhanallah…

hari ini ternyata hari dimana untuk pertama kali aku menghirup udara nan segar dari bumi yg diciptakan untuk Adam dan Hawa.
aku lupa, bahwa hari ini aku telah semakin Tua…
aku pun lupa, hari dimana umurku semakin berkurang…

Subhanallah…
aku baru teringat ketika Saudari-saudariku memberi ucapan “selamat” untuk berkurangnya umurku…
aku baru teringat ketika “Doa-doa” sahabat dan saudara/i tercinta tercurah dengan ikhlas dan tulus…

Yaa Allah…
DI hari ini, aku mohon pada mu yaa Rabb…
jangan kau jadikan sisa hidupku ini menjadi sia-sia…
jangan kau jadikan, sisa hidupku ini menjadi “sampah”.

Yaa Rabb…
Kuatkan hamba di separuh umur hamba.
kuat kan jasad, raga dan Ruh hamba tuk tetap berjalan di jalan yang Engkau ridhoi…

Yaa Rabb…
Limpah - ruahkanlah ridhomu…
berikanlah hamba Rizki yang halal - toyibbah.
Lindungilah hamba di setiap langkah hamba..

Yaa Rabb..
jadikanlah manfaat hidup hamba di setiap hirupan nafas hamba..
jadikanlah hamba, manusia yang selalu Istiqomah di jalanMu.

Yaa Rabb..
berikanlah karunia, perlindungan dan rahmat bagi saudara-saudari hamba..
satukan hati kami di jalan Mu.
pertemukanlah kami di Jannah Mu… amin…

di sisa hidup hamba, yang tak tau sampai kapan nafas ini kan terhenti.
namun yang pasti, matikan hamba dalam keadaan “syahid” yaa rabb…
dalam keadaan Khusnul Khotimah, dalam keadaan dimana hamba berpegang teguh di tali agama Mu, dan Masukan lah hamba-dan saudara-saudai hamba di jannah Mu… Amin…

Memberi Satu Dirham Lalu Allah Memberinya Seratus Dua Puluh Ribu Dirham

•Juli 7, 2008 • Tidak ada Komentar

Berjuang Keras untuk Satu Isteri

•Juli 7, 2008 • Tidak ada Komentar
eramuslim - Saya teringat sebuah dialog dengan “Sang Direktur” di salah satu instansi, dia memiliki posisi yang cukup strategis, dan cukup basah kata kebanyakan orang. Kami bersilaturahim ke rumah beliau dan isterinya, obrolan pun mengalir hangat dan sangat penuh kekeluargaan.

“Sudah makan malam belum nih, aku siapkan ya?” ujar sang isteri.

“Tidak usah Bu, 15 menit yang lalu kami barusan makan malam di Warung Lawu!” balasku.

“Ah, Warung Lawu! Kok mau sih makan di restauran itu?” tanyanya gemas.

“Memangnya kenapa bu, haram?” tanyaku penasaran.

“Kita sih ibu-ibu di sini udah pada boikot itu restauran, karena yang punya itu restauran ‘doyan isteri banyak’! Wah enggak bakalan deh makan di situ lagi!” Sambil tertawa renyah dan Sang Direktur mengiyakan isterinya dengan tersenyum manis.

Tak disangka dialog semakin hangat dan mengalir ke sisi perilaku umum para pejabat di instansi Sang Direktur berkantor, dimana terdengar, banyak dari pekerja ataupun pejabat yang melakukan hubungan tak wajar. Mereka dengan mudahnya menyebut si fulan ini, si fulan itu punya simpanan di sana-sini di luar nikah, entah dengan wanita tuna susila, dengan karyawatinya atau pun rekan selingkuhan. Isteri sang direktur itu sangat antusias menceritakan kasus “mereka”, dan ibarat nara sumber lah sang isteri tersebut, sambil diikuti tawa dan senyum dari suaminya layaknya suami setia di samping isterinya. Di sisi lain hatiku menolak melanjutkan pembicaraan semacam ini, “tidak ada manfaatnya dan hatiku gerah,” gumamku.

“Kalau saya gimana, ibu yakin enggak?” Tanya Sang Direktur kepada istrinya.

“Kalau saya sih yakin sekali suamiku tak begitu loh. Bapak sudah berkali-kali ikrar untuk enggak kayak gitu kan”. sambil mereka berdua saling berpegang tangan mesra, begitu pun sambutan suaminya dengan senyuman.

Beberapa minggu menjelang, aku bertemu dengan seorang rekan usaha. Sewaktu kami sedang asyik ngobrol, tiba tiba rekanku itu menerima telepon,

“Pak Fulan, apa kabar …?” Jawabnya, dan berlanjut dengan obrolan urusan pekerjaan.

Di akhir pembicaraan, di seberang telepon terdengar, “mas, tolong dikirimkan ‘yang biasa’ ke hotel ini, rang saya di …., sekarang ya! lagi lelah dan tegangan tinggi nih! Saya enggak kuat nahannya. Ya sekitar jam 11 malam deh, aku tunggu ya …? Pintanya”.

“Siap Pak, beres semuanya.” ujar rekanku sambil menutup pembicaraan teleponnya.

Aku merasa kenal dengan sebutan nama yang menelepon rekanku itu, tak sabar aku bertanya, “itu pak Fulan si Sang Direktur?” tanyaku.

“Betul, dia memang selalu minta gituan kalau sedang di sini, gue nih yang jadi repot nyariin ‘yang Biasa’ nya,” ujar rekanku.

Terbayang olehku bagaimana wajah isterinya yang begitu sangat yakin atas kesetiaan Sang Direktur. Tak di sangka bahwa “Sang Direktur” termasuk salah satu pelaku dari pergaulan ilegal. Aku segera tutup masalahnya, dan berlalu dari rekanku tadi.

Lain lagi cerita klien bisnisku yang lain. Dan aku yakin dengan mata kepalaku sendiri, dia selalu berujar kepada ku pada dua atau tiga kali kunjungan ke luar kota atau pun ke luar negeri bilamana bersama dengannya, “Aduh gue tak tahan nih, gue harus nyari nih. Gue pusing kalau di luar kota gini, mau bertualang ah! Mungkin orang jepang, asyik kali ya, beda rasanya nih, atau mungkin orang Itali asyik ya,” begitu seterusnya. Dan itu selalu ia realisasikan pada penghujung malamnya, kutahu setelah dia bercerita pada keesokan paginya.

Hatiku perih bilamana mendengar itu, dan sesekali kuucapkan Astagfirullah, Ya Allah tolong jagalah jiwa ini dari godaan seperti itu…, karena kuakui celotehan tersebut bilamana tidak kita waspadai akan bisa menyeretku ke arah tersebut. Dan aku berjuang keras untuk itu.

Kuakui kondisi tersebut menjadi suatu pembicaraan umum di kalangan para pebisnis atau eksekutif di kota ini. Bukan saja hal itu terjadi di kantor Sang Direktur atau rekanku saja, tetapi banyak cerita pula yang terjadi di perkantoran lainnya. Dunia semakin aneh, gumamku. Tapi aku masih optimis bahwa kejadian seperti di atas belum menjadi mayoritas perilaku para eksekutif di negeri ini, kuharap …

Jadi siapa yang seharusnya kita benci dan boikot? Warung Lawu dengan beberapa isterinya, yang meraihnya dengan cara yang halal, atau lelaki seperti Sang Direktur atau rekanku tersebut?

Akhirnya aku mencoba menelaah apa yang terjadi. Aku buka Alquran dan beberapa buku literatur, akhirnya kudapat sebuah jawaban, sesungguhnya Allah paling mengetahui karakter ciptaan-Nya, prinsipnya kaum adam itu mempunyai potensi dan hasrat yang kuat untuk pemenuhan psikologis terhadap wanita. Mereka juga butuh kasih sayang lebih dari kaum hawa. Terlebih itu kaum adam memiliki energi yang sangat kuat untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya terhadap wanita. Semakin banyak semakin indah, itulah syahwat kaum adam berbicara. Nah, permasalahannya adalah bagaimana caranya untuk melampiaskan kebutuhan tersebut.

Hanya ada dua pilihan yang baik pikirku saat ini. Pertama, poligami yang halal, syariat memperbolehkan hingga memiliki empat isteri, tetapi ada dampak sosial yang saat ini masih menjadi kendala dan masih diributkan. Apalagi yang mempermasalahkan kebanyakan dari kaum hawa. Dan pilihan kedua, adalah berjuang keras untuk tetap beristeri satu , dengan alasan khawatir tidak adil, dampak sosial yang berat, atau hal lainnya.

Semua pilihan di atas pastilah tetap membutuhkan perjuangan. Bagi yang memilih poligami, dia harus berjuang untuk membahagiakan isteri-isterinya, menghadapi tantangan dampak sosialnya, harus berlaku adil, memperkuat ekonominya, memperkokoh silaturahim antar keluarga besar, dan itu semua butuh kerja keras dan berjuang pula. Selain itu memastikan bahwa poligami bukanlah menjadi penghalang perjuangan amal soleh tetapi justru menjadi penyokong gerakan amal solehnya.

Begitupun untuk alternatif kedua, yang berjuang keras untuk tetap beristeri satu. Hal ini pun butuh perjuangan yang tidak ringan, untuk menahan potensi kebutuhan psikologis maupun biologisnya untuk isteri lebih dari satu. Perjuangan untuk menekan keinginan hatinya, selalu menjaga dan mempertahankan kesetiaan, menutup celah godaan, dan menekan potensi kesenangan yang dihalalkan. Berjuang untuk membahagiakan seorang isteri dan anak-anaknya, dan banyak perjuangan lainnya yang tak bisa diutarakan di sini.

Nah, buat para kaum hawa yang memiliki suami seperti alternatif yang kedua ini, dan saya yakin makhluk seperti ini masih banyak tersebar di bumi ini, bersyukurlah. Hargailah suamimu, sayangi dan dukunglah suamimu sepenuh hati, hormati dia atas perjuangan kerasnya untuk memilih hanya seorang isteri di hatinya.

Zidni T. Dinan

(Untuk seorang wanita yang mendampingiku hingga saat ini, adalah sebuah karunia-NYA yang indah dan telah diamanatkan kepadaku, seorang kekasih yang belum pernah sekali pun memperlihatkan wajah masam, atau amarah padaku sejak kita mengikat janji untuk mengarungi perjuangan kehidupan yang singkat ini. Terimakasih ya dukungannya, and All the praises and thanks be to Allah)

Lanjutkan membaca ‘Berjuang Keras untuk Satu Isteri’

100 LANGKAH MENUJU KESEMPURNAAN IMAN

•Juli 7, 2008 • Tidak ada Komentar

1. Bersyukur apabila mendapat nikmat.

2. Sabar apabila mendapat kesulitan

3. Tawakal bila mempunyai rencana /program

4. Ikhlas dalam semua perbuatan

5. Jangan biarkan hati larut dalam kesedihan.

6. Jangan menyesal atas suatu kegagalan

7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan

8. Jangan usil dengan kekayaan orang

9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang

10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan

11. Jangan Tamak terhadap harta

12. Jangan ambisius akan sesuatu kedudukan

13. Jangan hancur karena kedzaliman

14. Jangan goyah karena fitnah

15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi melebihi kemampuan diri

16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram

17. Jangan sakiti Ayah dan Ibu

18. Jangan usir orang yang meminta-minta

19. Jangan sakiti fakir miskin dan anak yatim

20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar

21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil

22. Banyak-banyaklah berkunjung kerumah Allah( Masjid)

23. Lakukan sholat dengan ikhlas dan Khusyu

24. Lakukan Shalat fardhu diawal waktu, berjamaah dan di Masjid

25. Biasakan sholat malam

26. Perbanyak Dzikir dan Do’a kepada Allah

27. Lakukan Sholat Wajib dan Puasa Sunnah

28. Lakukan Puasa Wajib dan Puasa Sunnah

29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah

30. Jangan marah berlebih -lebihan

31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan

32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah

33. Berlatihlah untuk mengkonsentrasikan pikiran

34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi.

35. Jangan mempunyai musuh , kecuali dengan iblis dan syetan

36. Jangan percaya ramalan manusia

37. Jangan terlampau takut miskin

38. Hormatilah setiap orang meski terhadap orang yang paling tidak kau suka sekalipun

39. Jangan terlampau takut kepada manusia

40. Jangan sombong , takabur dan besar kepala

41. Bersihkan Harta dari hak-hak orang lain

42. Berlakulah adil dalam segala urusan

43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah

44. Bersihkan rumah dari Patung -patung berhala

45. Perbanyak Silaturrahmi terutama terhadap saudara yang tidak mampu

46. Tutup Aurat sesuai petunjuk islam

47. Bicaralah secukupnya

48. Beristri / bersuami kalau sudah siap segala-galanya

49. Hargai waktu ,disiplin waktu dan manfaatkan waktu

50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur

51. Jauhkan diri dari segala macam penyakit-penyakit bathin

52. Sediakan waktu untuk santai bersama keluarga

53. Makanlah secukupnya, tidak kekurangan dan tidak berlebihan

54. Hormati kepada guru dan ulama

55. Sering sering bershalawat pada nabi

56. Cintai Keluarga Nabi SAW.

57. Jangan terlalu banyak hutang.

58. Jangan terlalu mudah berjanji

59. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara

60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna

61. Bergaulah dengan orang-orang yang soleh

62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar

63. Melakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu

64. Maafkan orang-orang yang berbuat salah pada kita.

65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan lagi

66. Jangan membenci seseorang karena salah paham dan pendirian

67. Jangan benci pada orang yang membenci kita

68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan suatu pilihan

69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan suatu pilihan

70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang dalam kesulitan

71. Jangan melukai hati orang lain

72. Berlakulah adil walaupun kita sendiri yang akan mendapat kerugian

73. Jangan membiasakan diri dengan banyak berkata dusta

74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab

75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan

76. Hormati orang yang lebih tua dari kita

77. Jangan membuka aib orang lain

78. Lihatlah orang yang lebih miskin dari kita, Lihatlah orang yang lebih berprestasi dari kita

79. Ambilah pelajaran orang-orang arif dan bijaksana

80. Sediakan waktu untuk merenung apa yang sudah dilakukan

81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya

82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama bangsa dan negara

83. Kenali kekurangan diri dan kelebihan yang dimiliki orang lain

84. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara

85. Berkatalah yang baik atau jika tidak, tidak usah berkata apa-apa

86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan dunia

87. Akrablah dengan setiap orang walau yang bersangkutan tidak menyenangkan

88. Sediakan waktu untuk berolahraga sesuai dengan norma agama

89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita terganggu

90. Hargai prestasi dan pemberian orang meski kita tidak menyukainya

91. Ikutilah nasehat orang yang arif dan bijaksana

92. Pandai-pandailah melupakan kesalahan orang dan pandai- pandailah melupakan jasa kita

93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang menyababkan orang lain terhina

94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dicek kebenarannya.

95. Jangan menunda pelaksanaan tugas dan kewajiban

96. Sambutlah uluran setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan yang tidak berlebihan

97. Jangan memforsir diri melakukan sesuatu yang diluar kemampuan

98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan, tantangan dan jangan lari dari kenyataan hidup

99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan

100. Jangan sukses diatas pendiritaan orang dan jangan kaya dengan diatas kemiskinan orang Lanjutkan membaca ‘100 LANGKAH MENUJU KESEMPURNAAN IMAN’

Tak Ada Milik yang Sempurna

•Juli 5, 2008 • Tidak ada Komentar

Baranet- Rencana. Hidupku penuh rencana. Meskipun belum semuanya bisa aku rencanakan. Tapi pasti bukan hanya aku yang punya rencana. Aku yakin semua orang juga punya rencana.

Bagiku, memiliki rencana berarti harus sekaligus mempersiapkan alternatif-alternatif. Mungkin sama dengan yang dimaksud para pelaku bisnis Ada plan A, plan B, plan C dan seterusnya. Tetapi menurutku itu saja tak cukup. Harus ada plan Z. Artinya, harus ada kesiapan ketika semua yang ada di kepala tidak bisa berlaku lagi. Seperti pesimisme. Mungkin. Tetapi bukannya segala bisa terjadi atas kehendak-Nya. Maha besar Dzat yang segala berada di tangan-Nya.

Ku pasang target-target. Dengan begitu otomatis aku menyusun rencana agar target tersebut bisa tercapai. Berusaha, yah, hanya dengan berusaha. Berusaha maksimal. Tak boleh ada kata putus asa. Aahh, begitu besar semangatku.

Kalau dengan usaha maksimal kita tidak bisa mencapai target? Ya itulah plan Z. Menyerah? Bukan! Masih ada harapan. Ditangan-Nya lah semua yang tak mungkin terjadi bisa terjadi. Bahagianya, masih mempunyai tempat berharap. Kalau yang terjadi tidak seperti yang kita inginkan? Ya itulah takdir. Terlalu sombong kita bila ingin memaksakan keinginan kita melampaui kehendak-Nya. Qona’ah. Mungkin itulah istilah yang lebih tepat.

Kita hanya bisa memohon agar apa yang diberikan-Nya kepada kita menjadi hal terbaik demi keselamatan kita di tempat yang abadi. Bukankah kita sering tidak melihat apa hikmah di balik peristiwa yang tidak kita kehendaki? Bukankah kita tidak bisa melihat, kecuali hanya sedikit? Begitu rapi teori itu tersusun di kepalaku. Kalau ada teman bertanyapun mudah sekali menjelaskan alurnya. Tapi bisakah menghadapinya?

Demikianlah, termasuk berumah tanggapun aku targetkan. Dengan berbagai pertimbangan, aku ingin menikah pada usia 25, setelah menyelesaikan studiku dan tentu saja bekerja. Kukira keinginan semacam ini hanyalah cita-cita sederhana. Mungkin hampir semua orang juga memilikinya. Bukan hal yang luar biasa.

Ketika usiaku menginjak 23 dan aku belum juga mempunyai calon. Meski beberapa kali ada yang mengutarakan keinginannya menikah denganku, entahlah, tidak ada diantara mereka itu yang sesuai dengan kriteriaku. Belum ada yang bisa membuatku jatuh cinta. Jatuh cinta? Apa pula artinya? Sangat mungkin berbeda dengan orang lain. Tetapi bagiku cukup sederhana untuk mengukur apakah aku jatuh cinta atau tidak: yaitu perasaan bisa menerima dia apa adanya tanpa ada tuntutan-tuntutan lagi. Dengan kata lain, semua kriteriaku sudah terpenuhi. Yah, aku belum pernah jatuh cinta.

Maka aku bersiap-siap mencari calon. Pro-aktif. Tentu dengan kriteria-kriteria yang telah kutetapkan. Tabu kata orang timur? Mengapa? Tapi bagaimanapun aku juga menyadari hidup dalam masyarakat timur, yang mau tak mau masuk ke dalam norma-normanya. Kukira tabu yang mereka maksudkan tidak berseberangan dengan syariat Islam. Bahkan mungkin dalam hal tertentu bisa dikatakan mendukung. Di sisi lain, bagiku semua orang diwajibkan berusaha. Jadi bisakah istilah tabu tersebut direkayasa?

Yang pasti, bukan pertanyaan itu yang menggelayuti pikiranku. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk mencapai targetku. Silaturahim? Memperbanyak wawasan? Perprasangka baik? Memperbaiki akhlak? Semua ingin kulakukan demi mencapai target dengan kriteriaku tersebut.

Sampai suatu sore yang begitu cerah dan lengang. Tenang mungkin istilah yang tepat. Awan-awan putih menyibak ketepi mengiringi matahari yang pelan-pelan bergerak semakin condong ke peraduannya. Tenang. Hatikupun terasa bening. Luas. Terasa luas dengan menyibaknya awan-awan putih ke tepi langit. Yang pasti begitulah sore itu.

Tapi sepertinya bukan hanya suasana sore itu yang membuat hatiku bening. Aku sedang menyadari bahwa aku sedang jatuh cinta. Indah rasanya menemukan seseorang yang kita inginkan. Kurasa betapa ini semua adalah nikmat yang agung. Dua puluh empat tahun, dan aku belum pernah mempunyai perasaan semacam ini. Ah, sungguh indah.

Dalam lubuk hatiku menggelitik kemungkinan-kemungkinan dan harapan- harapan. Bisakah aku mencapai target yang satu ini. Yang jadi masalah adalah bahwa dia tidak tahu perasaanku ini. What to do? Menunggu? Waktu segera memisahkan. Begitulah, karena sore itu adalah akhir sebuah program yang mengikutsertakan kami.

Berharap? Ternyata aku tidak berani berharap banyak. Aku cukup mensyukuri mempunyai perasaan yang indah ini. Jujur, aku merasa tidak harus memilikinya.
Do something! Yah, tapi aku harus melakukan sesuatu. Terlalu indah untuk dilewatkan. Terlalu indah untuk mempunyai perasaan ini. Bahkan aku tak yakin akan memiliki yang ke dua kalinya. Maka di sore yang bening itu. Kutulis sehelai puisi. Hanya untuk menyampaikan perasaan ini.

Maafkan aku harus menyampaikan semua ini. Kau telah melelehkan hati yang selama ini membeku, kaku, membatu. Tapi aku hanya ingin kau tahu. Kau tak harus mempunyai perasaan yang sama.

Begitulah kira-kira isinya. Dengan hati bening pula kusampaikan padanya dalam sebuah amplop dan kuminta dibacanya ketika sampai di rumah. Bukan di tempat itu.

Begitulah, rasanya nyaman bisa menyampaikan perasaan indah ini. Tanpa harapan sama sekali? Bohong kalau kukatakan begitu. Ada, meskipun tidak banyak. Logikanya, mungkin juga dia mempunyai perasaan yang sama, tapi tidak berani menyampaikan. Who knows? Tapi juga harus diakui bahwa harapanku memang tidak menggebu-gebu.

Benar ternyata logikaku. Keesokan harinya dia mencariku dan mengatakan bahwa dia telah mempunyai perasaan yang sama jauh sebelum aku mengatakannya. Oh, bisa dibayangkan, sebuah keindahan yang hampir sempurna. Bagaikan gayung bersambut. Sayang kami tidak mempunyai waktu bersama lagi. Sayang? Tidak juga. Justru takut juga dengan kebersamaan. Takut fitnah. Takut zina mata, lidah dan lainnya.

Hari-hari aku lewati dengan rencana-rencana selanjutnya. Dan pertemuan beberapa kali kami gunakan untuk bicara tentang masa depan dan makna hidup. Sungguh-sungguh indah.

Sampai setelah kami tidak bertemu beberapa waktu, dia harus menyampaikan- nya padaku. “Sayang ya dik, tidak ada sesuatupun yang bisa mutlak kita miliki. Hanya Allahlah pemilik yang sempurna,” katanya seperti biasa, bijaksana, dan ini adalah salah satu yang aku kagumi padanya. “Ya, tidak ada milik yang sempurna,” jawabku menyetujui pendapatnya, “Eh, tapi apa sebenarnya maksudmu”.

“Maafkan aku. Tapi aku harus mengatakannya padamu. Terlalu indah memiliki semua perasaan ini. Tapi aku harus jujur padamu. Aku juga tidak menghendakinya, tapi itulah yang terjadi,” katanya panjang. Aku sudah tak sabar dengan apa yang ingin dikatakannya. “Maksudmu?” “Kau tahu kenapa aku tidak menyampaikan perasaanku terhadapmu sejak dulu? Karena….karena sebenarnya aku sudah dijodohkan,” katanya perlahan. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. “Menurutmu apakah orang tuaku salah?” tanyanya kemudian. Aku masih diam.

“Ibuku hanyalah seorang janda yang harus menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Begitulah dik, aku tidak bisa menyalahkan ibuku juga, meskipun jujur aku tidak mencintai gadis itu”.

Kuhela nafas dalam-dalam. Sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan. Tak percaya dengan apa yang dikatakannya? Tak ada alasan untuk percaya atau tidak. Tetapi kurasa aku tak perlu berburuk sangka dengan tidak mempercayainya. Dia yang kukenal selama ini lebih menguatkan prasangka baikku itu. Tapi sungguh aku tak bisa bicara sepatahpun. Percakapan itu terasa membakar semua harapanku, meskipun tidak mengurangi perasaanku padanya.

Akhirnya kukatakan pula dengan segenap kekuatan hatiku agar dia memilih yang terbaik menurutnya. Berat ternyata, tidak semudah teori yang kutata di kepala.

Begitulah, semua kami akhiri dengan sehelai surat cinta. Dengan setengah kesadaran, setengah patah semangat.

Plan Z. Aku masuk ke plan Z. Biarlah Allah yang memutuskan. Dia maha tahu yang terbaik untukku. Meskipun dia tak boleh jadi milikku, perasaan itu tetap masih menjadi milikku, kecuali dia berubah menjadi seseorang yang tidak lagi berada dalam kriteriaku.

Selamat jalan kekasihku. Semoga kita mendapatkan yang terbaik bagi dunia dan akherat kita kelak. Bukankah kita hanya sedikit melihat. Dan Allahlah yang Maha mengetahui segalanya dan maha berkehendak. Benar katamu, tidak ada milik yang sempurna. Allahlah pemilik mutlak atas segala. Orang tua kita, saudara kita, anak-anak kita, suami/istri kita, kekasih kita, kekayaan kita, semua milik-Nya. Ketika Allah mengambilnya, siapa yang bisa bilang tidak.

Lanjutkan membaca ‘Tak Ada Milik yang Sempurna’

AXIOO TERACOM

•Juli 5, 2008 • Tidak ada Komentar

LAPTOP AXIO TERSEDIA DI TERACOM

LAPTOP AXIOO TERSEDIA DI TERACOM

ANDA SENANG KAMI PUN SEGAN

Instalasi Win-XP Notebook Toshiba Portege M600

•Juli 5, 2008 • Tidak ada Komentar